
Duaarrr... ledakan meriam cipeuteuy
Richard Abdulloh, anak saya, berhasil menyaksikan “meriam kampung” di Cipeuteuy tanpa larangan bundanya. Kami puas menyaksikan ledakan-ledakan keras dari mercon ala Lereng Galunggung ini.
Saya, Richard, Mang Harry, Yana, dan Kang Ade, berlima menyusuri Kampung Cipeuteuy. Kampung ini menghampar dengan teras siring tanaman padi di lereng Galunggung. Di tempat inilah kami mengambil beberapa gambar.
Kurang puas sih.. karena kabut-kabut sore mulai turun dan foto kurang mendapat warna yang memuaskan. Begitulah yang dibilang mentor fotografi kami, Mang Harry. Tadinya mau ambil panorama alam, hamparan sawah, dan redup sinar matahari di balik kabut. Maklum, saya masih pemula di fotografi.

Richard masih tutup telinga
Eh, ternyata ada meriam kampung sedang dijejerkan di sepetak sawah warga sedang siaga untuk diledakkan.
“Sudah tradisi,” kata Yana menjelaskan keberadaan mainan berbahaya itu.
Yana pun bercerita banyak tentang tradisi menjelang lebaran yang biasa dilakukan warga ini, termasuk di beberapa kampung sekitarnya. Dentuman mercon kayu itu memang setiap tahun sengaja dibuat oleh warga Cipeutey dalam memeriahkan lebaran. Adunyaring dengan kampung sebelahnya, Santanamekar.

Puluhan kayu berbentuk tabung panjang, "Meriam Kampung"
Puluhan belasan batang kayu berukuran sedang dan tiga batang ukuran sedang dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk tabung panjang. Bentuknya seperti meriam mengingatkan saya pada logo klub bola Arsenal.
Kami berlima datang dengan tiga kamera. Pertama tiba, kami disangka wartawan. Padahal, kami hanya fotografer kampung yang sedang ngabuburit melepas jenuh karena lebaran “diundur”.
“Duaarrrr………!!” begitulah dentuman meriam kampung itu membuat saya dan Richard, anak saya, kaget. Richard pun menutup telinga ketakutan dan mendekap saya.
Pertama kali ini, Richard yang usianya baru 4 tahun (pada 12 Ramadhan 1432), mendengarkan dari dekat dentuman meriam kampung. Ledakan itu seakan-akan melupakan bunyi kembang api yang selama bulan Ramadhan ia tonton sebelum taraweh.

Pulang deh.. Menuju TROOPER
Duarrr….!! Duaaarr….!! Bunyi ledakan itu berkali-kali dan Richard tidak lagi menutup telinganya.
Nampaknya dia senang menyaksikan mainan baru itu. Dia pun cerewet berceloteh, bercerita, yang menurutnya itu ledakan yang luaarr biasa…
Sore pun makin mendekatkan kami pada waktu berbuka di hari terakhir Ramadhan tahun ini. Kami bergegas menuju Trooper. Pulang deh..! Di dalam mobil, Richard bercerita ga bisa diam, masih menceritakan ledakan-ledakan meriam itu.
Setiba di rumah, Richard dimandiin oleh bundanya. Sambil mandi, si bolang ini masih cerita tentang api yang menyala dan bunyi ledakan meriam cipeuteuy.


