BlogScout

Bunyi Merdeka, Sejarah Lagu Indonesia Raya [E-Book Download]

ebook sejarah lagu indonesia raya

buku elektronik berjudul “Bunyi Merdeka, Sejarah Sosial dan Tinjauan Musikologi Lagu Indonesia Raya”, ditulis Dirdho Adithyo dan I Gusti Agung Anom Astika.

by: LaguIndonesiaRaya.id

Indonesia Raya sebagai sebuah lagu kebangsaan negara Republik Indonesia sebenarnya memiliki sulur-sulur akar sejarah yang panjang. Indonesia Raya lahir di tengah bara sekam perlawanan rakyat bumiputera yang tak hangus ditindas oleh kolonialisme Belanda. Pun ia tumbuh sebagai bentuk perjuangan yang baru, refleksi dari perjuangan-perjuangan di periode abad ke-19.

Karena itu penting kemudian untuk menempatkan lagu Indonesia Raya dalam konteks sejarah politik dan kebudayaan bangsa Indonesia. Ulasan lengkapnya, Pemerintah telah menerbitkan buku elektronik berjudul “Bunyi Merdeka, Sejarah Sosial dan Tinjauan Musikologi Lagu Indonesia Raya“.

Sejarahnya lagu Indonesia Raya, dimulai dari W.R. Supratman anak band yang jadi jurnalis itu membaca suratkabar Timbul terbitan Solo. Putra pensiunan sersan KNIL ini lantas tertantang oleh kalimat:

Alangkah baiknya kalau ada salah seorang pemuda Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, sebab lain-lain bangsa semua telah memiliki lagu kebangsaannya masing-masing!

Di pertengahan 1928, lagu ‘Indonesia Raya’ rampung. Ketika Kongres Pemuda II, untuk kali pertama lagu itu diperdengarkan di tengah khalayak dengan gesekan biola Supratman, bersamaan dengan lahirnya Sumpah Pemuda.

Baca >  Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Simphoni & Vokal 3 Stanza

Demikian Anthony C. Hutabarat dalam Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Soepratman: Pencipta Lagu Indonesia Raya (2001).

Lirik lagu ‘Indonesia Raya’ ketika itu:

Indonesia, tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.

Indonesia kebangsaankoe,
Kebangsaan tanah airkoe,
Marilah kita berseroe:
“Indonesia Bersatoe”.

Hidoeplah tanahkoe,
Hidoeplah neg’rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.

II

Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s’lama-lamanja.

Indonesia, tanah poesaka,
Poesaka kita semoea,
Marilah kita mendoa:
“Indonesia Bahagia”.

Soeboerlah tanahnja,
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoeanja,
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.

III

Baca >  Tips Menggunakan Kata Kunci (Keyword) dalam Menulis Artikel

Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang terkoetjintai,
Marilah kita berdjandji:
“Indonesia Bersatoe”

S’lamatlah rajatnja,
S’lamatlah poet’ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg’rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.

Refrain

Indones’, Indones’,
Moelia, Moelia,
Tanahkoe, neg’rikoe jang koetjinta.
Indones’, Indones’,
Moelia, Moelia,
Hidoeplah Indonesia Raja.

Lirik dan notasi lagu ini dimuat di surat kabar Sin Po edisi 10 November 1928. Semula lagu ini judulnya ‘Indonesia’, bukan ‘Indonesia Raja’ atau ‘Indonesia Raya’. Menurut Benny Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2003), 5.000 eksemplar teks lirik dan notasi itu dicetak. Sin Po adalah tempat Supratman bekerja cari makan sebagai jurnalis.

Lalu, tinjauan sejarah versi pemerintah disosialisaikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui website LaguIndonesiaRaya.id. Kemendikbud juga menerbitkan buku elektronik yang bisa Anda unduh.

To Top