
Emirates Stadium: Pusat Bisnis Sepakbola Arsenal
Petinggi Arsenal meyakini bahwa saat ini memang waktu yang tepat untuk membicarakan prestasi Arsenal. Berikut ini penjelasan Kepala Eksekutif Arsenal Ivan Gazidis sebagaimana dirilis oleh BBCindonesia.com.
Klub London utara ini tidak meraih piala sejak 2005 dan penampilan sejauh ini di Liga Primer 2011/2012 adalah yang terburuk sejak 1958. Namun jajaran eksekutif Arsenal masih bisa menepuk dada karena kondisi keuangan klub tergolong sehat.
Menurut Gazidis, strategi bisnis klub berhasil mendatangkan penerimaan yang tidak sedikit dan pada saat yang sama tidak mendapati kesulitan sama sekali untuk memenuhi peraturan keuangan baru UEFA.
“Kami berhasil mandiri dari sisi keuangan. Semua yang kami capai, itu adalah hasil jerih payah kami sendiri. Kami bisa melakukannya berkat disiplin anggaran,” kata Gazidis.
Peraturan baru UEFA menyebutkan klub di Eropa dilarang mengeluarkan uang melebihi penerimaan. Di tataran praktis, tidak bisa lagi seorang pemilik yang super kaya mensubsidi klub dengan membeli pemain-pemain bintang sementara penerimaan klub tidak seberapa.
UEFA telah mengeluarkan acaman, klub yang melanggar aturan bisa dicoret dari kompetisi bergengsi seperti Liga Champions. Dari sisi ini, Arsenal boleh dikatakan sukses.
Pemain muda
Setahun lalu, klub mengumumkan keuntungan sebelum pajak sebesar US$86 juta. Rekor ini mungkin tidak akan bisa disamai tahun ini namun angka sementara untuk 2011 menunjukkan Arsenal setidaknya bisa meraih keuntungan US$14 juta.
Gazidis menyebut model bisnis Arsenal sebagai standar pengelolalan klub masa depan. Ia menyebut klub-klub lain yang terus-menerus berbelanja tanpa memperdulikan penerimaan sebagai masalah yang harus diatasi di dunia bisnis sepak bola.
“Banyak klub yang seperti itu dan ini jelas tidak bisa dipertahankan,” katanya.
Gazidis diangkat menjadi nakhoda Arsenal pada 2005, bertepatan dengan periode paceklik piala. Beberapa kalangan mengatakan kegagalan Arsenal meraih piala antara karena manajemen enggan mengeluarkan uang membeli pemain bintang. Gazidis mengatakan memang menjadi strategi untuk tidak membeli pemain dengan nama-nama besar.
“Kami tahu kami tak mungkin bisa bersaing dengan klub-klub lain yang memiliki banyak uang,” kata Gazidis.
“Kalau pun kami ikut-ikutan berburu pemain bintang, harga pemain akan terus naik. Jadi itu merugikan kami pada akhirnya,” papar Gazidis.
Ia mengatakan manajemen dan manajer sepakat untuk melanjutkan kebijakan membeli dan mengembangkan kemampuan pemain-pemain muda.
Uang Liga Champion
Di luar kebijakan pemain, manajemen kini makin serius menggarap merek Arsenal. Menurut Gazidis, merek Arsenal tidak kalah menjual dibandingkan merek lain seperti Manchester United, Liverpool, Real Madrid, dan Barcelona.
Ia menyebut lawatan ke Malaysia dan Cina beberapa bulan lalu yang ia katakan menuai sukses besar. Ini adalah lawatan Asia pertama Arsenal dalam kurun 10 tahun. Tadinya Arsenal juga ingin menggelar tur ke India namun masalah logistik membuat rencana ini gagal diwujudkan.
Kembali ke kinerja Arsenal di lapangan. Persaingan di papan atas Liga Primer makin berat. Liverpool sudah terlempar dari posisi empat besar dalam beberapa musim terakhir. Padahal posisi empat besar menjamin penghuninya berlaga di Liga Champions, kompetisi paling elit di dunia.
Selain bergengsi, uang dari kompetisi ini sangat besar. Bila Arsenal gagal masuk Liga Champions, itu berarti akan ada komponen pemasukan yang akan hilang dari pundi-pundi Arsenal. Namun, Gazidis sepertinya tidak terlalu khawatir dengan prospek kegagalan Arsenal masuk ke Liga Champions.
“Model bisnis kami telah mengantisipasi hal-hal semacam ini,” katanya.


