Netpreneur

Akhirnya Saya Memustuskan untuk Bergerak Kembali ke Desa

Lina Mmarlina, Citepus Cisayong Tasikmalaya

Lina Marlina, orang kampung Citepus, Cisayong, Tasikmalaya.

by: Udex Shot

Kembali ke desa adalah pilihan yang berat bagi saya. Padahal saya orang desa lho. Desa Banget.. Kelamaan di kota (Bandung) memang membuat saya hampir lupa banyak hal. Di Bandung saya banyak menikmati kemudahan karena banyaknya fasilitas yang tersedia.

Hingga akhirnya teman saya, Pak Perry Christanto si raja Factory Outlet, mengatakan bahwa di luar Bandung membutuhkan orang-orang kreatif juga. Saya termasuk yang tergerak untuk keluar dari kenyamanan-kenyamanan Kota Bandung.

Berat juga sih keluar dari keenakan di Bandung. Tapi saya percaya, laa haula wa quwwata illa billaah. Saya akhirnya pelan-pelan mencoba pulang ke kampung istri, Kampung Citepus, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.

Keaslian Kampung Citepus

Di sini asli, kampung banget. Masih terasa dinginnya suasana hidup di kaki Gunung Galunggung. Kabut-kabut pagi (kadang sore) menjadi pemandangan indah setiap hari, terutama di hari-hari hujan. Bersama dinginnya kabut-kabut itu, pelan-pelan saya memperhatikan peluang-peluang bisnis di desa. Terus terang, nampak berat hidup di desa lagi.

Padahal waktu kecil, saya juga pernah ke sawah, jualan gabah dan beras, jualan es, jualan ondeonde, dan kadang ikut tukang sulap tampil di pasar kota Sampang.

Tapi kehidupan desa di sini beda sekali. Anak-anak mudanya seperti orang kota.

Alhasil, sementara saya terus berbisnis ‘Tooyul’ dulu sama saja seperti di kota yang selama ini masih jadi usaha sampingan.

Kembali ke kampung, kembali ke masjid

Sejak kecil saya senang menginap tidur di masjid. Banyak sekali kenangan di masjid. Kenangan itu mulai proses mengaji, dijailin teman-teman, sampai naksir cucu kiai. Biasa lah anak kecil, nakal-nakal sambil belajar.

Saya senang berpindah-pindah masjid dan mencari teman-teman bermain serta menginap tidur di masjid. Main petak umpet, kadang main congklak, sampai dimarahin orang tua yang anak-nya tidak mau pulang karena betah bermain di masjid.

Sesekali saya menginap di lingkungan pesantren kakek saya di Kampung Ombul, Desa Apaan, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang di Madura sana. Suara keras nenek saya membangunkan kami yang tidur. Nenek saya Nyai Munirah, suaranya keras saat melantunkan dzikir sambil menunggu iqamat subuh.

Kini di kampung, saya kembali ke masjid. Dengan dukungan masyarakat, bapak-ibu bertua, dan istri saya, saya mendirikan Yayasan At-Taqwa Citepus untuk mengelola Masjid Jami’ At-Taqwa Citepus. Saya belum berbuat apa-apa di sini, hanya merapihkan hal-hal yang sudah dibangun oleh masyarakat sebelumnya.

Dukungan istri luar biasa

Untungnya, saya punya istri berlatar pendidikan yang baik untuk menjadi pendidik anak-anak di kampung. Dia mendukung apa yang saya mulai. Terus terang, memulai hidup di kampung yang pendidikan agamanya sangat kurang ini cukup berat.

Saya tidak betah ketika melihat masjid yang adzannya sering telat. Di sekitar rumah mertua saya, tempat saya tinggal, ada 3 masjid. Masjid yang paling dekat rumah sering telat adzannya. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk adzan di setiap waktu shalat.

Lalu saya punya ide membuat pesantren muaddzin mendidik anak-anak usia 9 – 16 tahun agar bisa adzan yang baik. Alhamdulillah, ide itu didukung istri saya dan terwujud menjadi pesantren kilat menginap 40 hari. Ide ini saya adopsi dari kegiatan yang saya gagas di Masjid Salman ITB pada awal 2002. Waktu itu saya mengadakan lomba adzan mahasiswa berhadiah beasiswa dan tinggal asrama untuk seleksi muaddzin di Masjid Salman ITB. Ide itu muncul saat saya kesal mendengar adzan dengan suara yang kurang pas di telinga saya.

Di Masjid Salman ITB itu saya bertemu wanita yang menjadi istri saya. Kini saya pulang ke kampungnya dan ‘nekat jadi ustadz’ di Kampung Citepus ini.

Blog pribadi Udex Mundzir, catatan pribadi sebagai wiraswarta yang hidup di kampung.

Berbagi informasi peluang bisnis di internet, penulisan, dan belajar Bahasa Indonesia sehari-hari.

Copyright © 2017 Tooyul, inc Themetf

To Top